Home Opini Membangun Lembaga Pendidikan dari Rusia 2018

Membangun Lembaga Pendidikan dari Rusia 2018

302
0
SHARE
Membangun Lembaga Pendidikan dari Rusia 2018

Hardianto, Dosen Pendidikan IPS FKIP Universitas Pasir Pengaraian dan Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta

Saat ini perhatian seluruh belahan dunia tertuju pada pergelaran akbar Piala Dunia 2018 di Rusia. Walaupun fase grup belum menyelesaikan seluruh pertandingannya, beberapa kejutan telah mewarnai pergelaran olahraga terpopuler di bumi ini. Beberapa negara juga sudah pasti tersingkir lebih cepat karena kalah dalam dua pertandingan awal.

Melihat beberapa pertandingan yang telah selesai dimainkan, kita bisa belajar banyak dari negara kontestan Piala Dunia. Kita dapat belajar dalam membangun sebuah organisasi, khususnya lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan (sekolah) merupakan sebuah lembaga yang harus dibangun dengan baik agar mampu mewujudkan visinya.

Pertama; Kepemimpinan yang kuat akan mendorong kinerja tim. Kepemimpinan yang kuat dapat dipelajari dari kepelatihan Aliou Cisse di timnas Senegal. Pelatih dengan bayaran termurah ini mampu menyulap permainan enerjik dan penuh semangat skuad Singa-Singa Teranga (julukan timnas Senegal). Pengalamannya sebagai bagian dari skuad Senegal pada Piala Dunia 2002 (sebagai kapten tim) terlihat mampu mengoptimalkan skuad Senegal yang hanya punya Sadio Mane sebagai pemain yang merumput di tim hebat eropa (Liverpool).

Seorang yang menjadi kepala sekolah jelas harus berpengalaman di sekolah itu. Gaji memang merupakan salah satu faktor untuk bekerja dengan baik. Akan tetapi banyak faktor lain yang juga harus diperhatikan, seperti budaya organisasi dan karakter kepemimpinan (kompetensi kepribadian dan manajerial). Aliou Cisse dikenal sangat dekat dengan pemainnya. Seorang kepala sekolah yang berhasil harus bisa dekat dengan sivitas akademika di sekolah.

Kedua; Perlunya perencanaan dipersiapkan dengan baik. Perencanaan penting dalam sebuah organisasi. Ketika menghadapi persoalan yang berpotensi mengganggu tercapainya visi, perlu fleksibilitas sebuah rencana atau mungkin membutuhkan cara lain (Plan B). Kita dapat belajar perencanaan dari kegagalan timnas Argentina pada dua laga awal Piala Dunia 2018. Pola permainan tim Tango yang terpusat pada Lionel Messi sangat mudah dibaca Islandia (1-1) dan Kroasia (0-3). Ketika Messi dikawal ketat serangan Argentina sangat tumpul.

Sekolah mesti mempunyai perencanaan yang baik berdasarkan kondisi nyata sekolah. Sekolah akan banyak menghadapi persoalan baik yang datang dari internal maupun eksternal. Perencanaan yang tepat di susun dengan memperhatikan Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman yang ada di lingkungan sekolah (analisis SWOT). Ketepatan menganalisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman akan menjadi faktor keberhasilan sebuah rencana. Dengan perencanaan yang baik, sekolah siap menghadapi apapun permasalahan yang akan terjadi.

Ketiga; Pemilihan sumber daya manusia yang tepat akan menjamin terwujudnya tujuan organisasi. Belajarlah dari keberhasilan tuan rumah Rusia dan kegagalam timnas Jerman. Timnas Rusia tanpa pemain bintang, tapi untuk dua pertandingan yang telah dilalui terlihat sangat solid. Timnas Jerman diisi sebagian besar alumni Champion 2014 yang telah dimakan usia. Ketika dibawa bermain fisik oleh anak muda Mexico, sang juara bertahan harus menelan kekalahan.

Lembaga pendidikan tidak hanya membutuhkan orang-orang dengan nama besar tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan. Untuk menjadi guru tentunya harus memiliki empat kompetensi dasar guru, begitu juga untuk menjadi kepala sekolah memiliki lima kompetensi dasar kepala sekolah. Begitu juga tenaga kependidikan harus memiliki kompetensi tertentu. Dalam mengajar, guru yang profesional akan mengajar sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Pemilihan tenaga kependidikan yang kualified juga mutlak diperlukan untuk mewujudkan keberhasilan pendidikan.

Keempat; Kuasai teknologi. Piala dunia 2018 telah menggunakan teknologi VAR dan teknologi garis gawang. Pemain tidak bisa lagi diving atau protes terhadap gol yang terjadi. Kawashima (penjaga gawang timnas Jepang) protes dan meyakini sepakan pemain Colombia belum melewati garis gawang. Dengan teknologi garis gawang protes Kawashima jadi percuma. Begitu juga pemain Iran yang telah berselebrasi usai mencetak gol ke gawang De Gea (Spanyol), dengan teknologi VAR gol itu dianulir dan ternyata offside.

Lembaga pendidikan mesti sudah menggunakan dan menerapkan teknologi kekinian. Penggunaan teknologi tidak hanya pada kegiatan administrasi saja, tetapi juga dalam kegiatan belajar mengajar. Guru dan tenaga kependidikan harus sudah melek teknologi. Penggunaan metode mengajar yang bervariasi sudah menjadi keniscayaan. Sistem E-learning sudah harus diterapkan di sekolah.

Semoga pembelajaran dari Rusia 2018 bisa menjadikan lembaga pendidikan semakin maju. Sekolah memiliki perencanaan berdasarkan SWOT sendiri, sekolah memiliki SDM yang dibutuhkan dan penguasaan teknologi informasi di kalangan sivitas sekolah, serta memiliki pemimpin (kepala sekolah) sejati. Bagi penikmat Piala Dunia 2018, selamat menikmati episode-episode selanjutnya dalam gemerlapnya pertandingan.

?

Oleh: Hardianto

Dosen Pendidikan IPS FKIP Universitas Pasir Pengaraian dan Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta