Loading...

Bupati Sukiman Dukung Tradisi Adat Mandai Ulu Taon di Bagas Rarangan Haiti Jadi Agenda Tahunan

419
SHARE
Bupati Sukiman Dukung Tradisi Adat Mandai Ulu Taon di Bagas Rarangan Haiti Jadi Agenda Tahunan

Bupati Sukiman saat memghadiri acara Mandai Ulu Taon di Bagas Rarangan Huta Haiti

Rohultoday.CO - Laksanakan tradisi adat tahunan Mandai Ulu Taon, ribuan masyarakat Mandailing dari Napitu Huta (Tujuh Kampung) di Rokan Hulu (Rohul), Rabu (25/4/2018) turut meramaikan acara Makan Bersama yang dipusatkan di Bagas Rarangan Huta Haiti, Desa Rambah Tengah Barat Kecamatan Rambah.

Kegiatan ini dihadiri Bupati Rohul, H Sukiman, Ketua DPRD Kelmi Amri SH, sejumlah anggota DPRD, raja-raja Napitu Huta yang dikenal Sutan Naopat Mangaraja Natolu serta Sutan Maratur Mangaraja Marbaris, Raja Melayu dari Luhak Rambah serta para pejabat di jajaran Pemkah Rohul, mantan Sekda Rohul Syarifuddin Nst, sejumlah pejabat Forkopimda, Camat Rambah, Kades Rambah Tengah Barat beserta perangkat Desa Rambah Tengah Barat dan Sialang Jaya.

Dikatakan Bupati Rohul H Sukiman dalam sambutannya, bahwa tradisi Mandai Ulu Taon yang diperingati saat ini harus dilestarikan, karena itu sebagai ciri khas dan tradisi turun temurun dari Napitu Huta.

Kemudian, kegiatan yang dilaksanakan juga sebagai bentuk solidaritas dan adat yang diwarisi oleh masyarakat Napitu Huta, sejak dari nenek moyang Boru Namora Suri Andung Jati.

?Melalui Mandai Ulu Taon ini, juga dimaksudkan, mengingat sejarah perjuangan anak seorang Raja Mandailing, Boru Namora Suri Andung Jati. Sehingga tradisi adat di Napitu Huta kedepannya akan dijadikan agenda tahunan, khususnya bagi masyarakat Mandailing Napitu Huta,? kata Bupati Sukiman

Berdasarkan laporan ketua kegiatan, Damri Nasution, Mandai Ulu Taon digelar atas peran serta seluruh masyarakat Napitu Huta. Kegiatan itu sendiri, sebagai bentuk syukur ke Sang Pencipta, setiap tahunnya agar meningkat hasil pertanian masyarakat.

Dari cerita yang berkembang di kalangan masyarakat Mandailing, Raja perempuan Boru Namora Suri Andung Jati pergi ke alam khayangan dengan meninggalkan jejak kakinya yang saat ini masih bisa dilihat diarea Bagas Rarangan Huta Haiti atau di dusun Kaiti III Desa Rambah Tengah Barat (RTB), Kecamatan Rambah atau dikenal "Tompat Keramat".

?Boru Namora Suri Andung Jati yang bermarga Nasution dalam sejarah diceritakan merupakan seorang raja dari sebuah kerajaan di Padang Galugur ? Panyabungan (Tapanuli Selatan) di abad XIV. Namun karena terjadi perang saudara, maka guna menghindari perang, Boru Namora Suri Andung Jati mengungsi dan membawa pengikutnya menuju tanah melayu yakni Pasir Pengaraian, yang dahulunya disebut "Pasir Panggorean".

?Boru Namora dan pengikutnya kemudian mendiami dan mendirikan sebuah perkampungan bernama Huta Haiti sekitar 3 km dari pusat kota kabupaten Rohul dengan Panglima Perang seorang?Raja Perempuan, yang dikenal dengan nama Sutan Laut Api yang juga bermarga Nasution,? kata Damri Nasution Bergelar Maraja Huta Tinggi.

Kemudian, saat kerajaan Rambah terjadi peperangan dengan kerajaan Melayu Rokan, maka warga Mandailing yang dipimpin Boru Namora Suri Andung Jati membantu kerajaan Rambah. Atas bantuan dari bala tentara Napitu Huta, kerajaan Rambah memenangkannya. Lalu Raja Rokan bersama anggotanya mundur tanpa lakukan perlawanan, sehingga kemenangan berada di raja rambah, tanpa harus melakukan peperangan.

?Sebagai ungkapan rasa terima kasih atas bantuan itu, Raja Rambah menghadiahkan tanah wilayat dengan istilah" Tanah Sebingkah-Aur serumpun" ke tiap tiap kampung Mandailing Napitu Huta, yang tetap menjaga adat istiadat dan bahasa mandailing.

Dari raja-raja di Napitu Huta lebih di Kenal dengan sebutan Sutan Naopat Mangaraja Natolu sutan maratur Mangaraja marbaris antara lain, Sutan Laut api (Marga Nasution) di Huta Kubu Baru, Sutan Tuah (Marga Nasution) di Huta Haiti, Sutan Silindung (Marga Nasution) di Huta Tangun, Sutan Kumalo Bulan (Marga Nasution) di Huta Menaming, Mangaraja Liang (Marga Nasution) di Huta Tanjung Berani, Mangaraja Liang (Marga Nasution) di Huta Sunge Pinang, Mangaraja Timbalan (Marga Lubis) di Huta Pawan.

Kades Rambah Tengah Barat, Sofian Daulay mengaku, keunikan tradisi Mandai Ulu Taon itu, Makan Bersama dilakukan dengan menggunakan daun pisang sebagai piring tempat nasi, baik dia seorang Raja, atau seorang pejabat sekalipun sama dengan masyarakat biasa.

Acara ditutup dengan makan bersama, setelah sebelumnya Bupati bersama Ketua DPRD dan raja-raja Napitu Huta, mengunjungi jejak peninggalan Boru Namora Suri Andung Jati yang persis berada di Bagas Rarangan juga berdampingan dengan Makam Sutan Laut Api. (ADV/Humas)